Mekanisme Rindu yang Salah

saya tak merasa mulanya, bahwa rindu akan menjadi cukup menyiksa seperti ini.

awalnya bagi saya, rindu adalah sebuah hal yang menyenangkan
bertemu, melebur, dan mulai menabungnya kembali.

semuanya terasa seperti sesuatu yang indah untuk di lalui
menunggu waktu cukup lama, dan memulai melepaskan semuanya,
bagi saya seperti sedang menanam benih, menunggunya tumbuh rimbun dan mencabut sampai ke akar-akarnya

namun semua berubah,
saat kata melepaskan mulai saya singgung.
saat saya tidak bisa lagi, melihat perubahaan kecil yang sebenarnya tidak begitu berarti.
Status "last seen" dari media chat kita yang sudah di-non-aktifkan.
Status dari instagram yang sama halnya lakukan.
Kamu yang super sibuk untuk memulai project band barunya. Sampai-sampai lupa tidak menyapa saya dalam telepon malam kami.
Ah.. saya jenuh, pikir saya.
saya memulainya, mengakhiri apa yang sudah kita jaga
saya, merasa bak yang paling bisa, membuatnya mengerti tanpa saya minta.
bodohnya saya ya.

saya yang merindu, saya juga yang memaksanya untuk melakukan tugas sebagai perindu.
saya yang tersiksa, saya juga yang  memaksanya sebagai penyiksa
saya yang meracuni diri saya, saya juga yang memaksa Dia sebagai peracun atas saya.

sekejab, saya meminta kamu kembali. 
nyatanya tidak bisa,
saya paksakan, nyatanya juga tidak berhasil.
kita masih bersama, tapi tidak saling.

saya cukup mengerti,
kecewanya Dia saat saya dengan mudah melepaskan hanya untuk ego saya.
hilangnya kita saat saya menggunjing hal-hal itu.
mengembalikan semua seperti semula mungkin bukan perihal yang mudah bagi kamu
memang perihal yang berat bagi kamu

saya masih disini, untuk satu bulan terakhir,
bisakah kamu masih bersama saya, di satu bulan terakhir saya di kota ini?
tunggu, tunggu saya kembali.
kembali ke kota pelajar, ke Gereja Ganjuran
tempat dimana kamu, menemukan hati saya melalui doa yang kamu mulai di dalam Tuhan.
Sepeninggalnya kamu, untuk satu bulan di Bali.

Bangkok, 23 april 2018

Komentar